alisakit™

Berbagi Pada Nafas Dunia

Terbaru

Latest Posts

Percakapan Dengan Rembulan ; Sebuah Prosa Tentang Cinta

- No Comments
Sayang, sadarkah betapa menakjubkannya dirimu? Senyummu sesejuk air sungai surgawi pelepas dahaga, matamu seindah kerlip bintang yang menghiasi malam jelaga. Tawamu semerdu nyanyian para Diva utusan khayangan. Gerakmu indah --meski tiada pasti. Maka, berilah aku seteguk air surgawimu, biarkan aku mengagumi kerlip bintangmu, sambil aku rebah di rerumputan, menikmati merdu tawamu. Akan kuceritakan sebuah rahasia kecilku dengan rembulan, ketika suatu waktu aku sempat memandangi dirimu yang terlelap diantara pinus-pinus di pinggir danau yang riak airnya berkilauan bak permata, terbias cahaya purnama yang tersenyum di pojok langit.


prosa cinta

Roman wajahmu selugu bayi baru terlahir. Oh… rasanya ingin membelai rambutmu, menyentuh alismu, mengecup matamu yang terpejam, lalu bibirmu yang menyunggingkan senyum. Tapi aku cuma memandangimu, sebab engkau terlalu menghanyutkan korneaku.

“Aku mencintainya, Bulan".

Akan kuminta langit melatari lukisanmu, dan awan meneduhkanmu dari panas.

“Tapi aku tidak bisa terbang”.

Bersiaplah, sayapmu akan tumbuh, telah kuminta Dewa-dewa meminjamkannya untukmu.

“Terima kasih, Bulan”.

Berbahagialah, sebab cintamu cintanya akan menjadi awan-awan Nebula yang abadi menghiasi semesta

***

Jangan Khawatir, Nak

- No Comments
Bayi-bayi yang mungil. Bayi-bayi yang hidupnya masih bergantung pada orang dewasa. Tangan-tangan yang mungil, kaki yang terlihat rapuh, mata yang kecil, juga tangis yang mendamaikan. Begitu manis, begitu indah, begitu suci. Sebab kencing dan kotoran mereka saja tidak bau.
Hanya kita orang-orang dewasa yang akan mengotori mereka dengan keinginan-keinginan yang dibebankan kepada meraka. Sesuatu yang menurut kita terbaik, tapi belum tentu terbaik untuk dirinya. Usia sekian sudah harus les ballet atau piano. Lalu les bahasa inggris, les renang, les modelling atau vokal. Sementara waktu mereka bermain dan menjadi diri sendiri hilang.



Kita, sering menyerupai anak dengan bahan mentah keramik. Membentuknya sesuka hati sesuai keinginan tanpa membiarkannya tumbuh alami. Waktu untuk mereka tumbuh menjadi dirinya kita rampas dengan les-les mengerikan itu. Kita -- orang-orang dewasa, sering menjadi pembunuh karakter anak-anak kita.

Maka, jangan khawatir nak, kelak ayah akan memberikan kebebasan untuk menjadi dirimu sendiri.

Ijinkan Aku Bercerita ; Sebuah Surat Cinta

- No Comments
Ijinkan aku bercerita, tentang perasaan-perasaan yang dipaksa diam. Katakanlah tentang bagaimana tubuh padam seperti matahari yang lisut di balik ombak ketika melihatmu, hanya melihatmu, melihat wajah bulanmu bersinar pada hari yang begitu terang, sebab bagaimana mungkin aku bisa menahan hasrat untuk tidak melihatnya, meski diam-diam, mengintip dari balik dedauan, bahu kawan, juga lirikan. Hanya hasrat yang terus dipaksa bungkam.

Bisakah kamu membayangkan apa yang sedang kurasakan? Bagaimana aku hanya bisa membayangkan menyentuh jejarimu, menyentuh alismu yang berbaris rapi, mengusap rambutmu yang hitam tergerai di kening, di kuping, sebab aku tidak akan pernah bisa menyentuhnya dengan perasaan yang berbeda selain sebagai seorang kawan. Bagaimana mungkin bisa menyentuh hatimu?

Surat Cinta


Telah kuciptakan banyak puisi untukmu, untuk meluluhkan hatimu, berharap kamu menoleh dan melihatku sejenak di ujung hari yang kian tua ini, sekedar menikmati sore yang sebentar lagi malam, mungkin juga hujan yang membawa titik-titik air membasuh permukaan bumi. Telah kuciptakan banyak puisi untukmu. Hanya untukmu, tentang bagaimana aku mengagumimu, bagaimana aku mengenangkan matamu, bagaimana caramu tertawa, bicara, tersenyum.

Aku akan tetap mencintaimu sampai tanganku tak mampu menulis lagi, sampai mataku tak bisa terbuka lagi, sampai nafasku tak berhembus lagi, sampai jantungku tak berdenyut lagi, sampai kata-kata telah habis kutulis menjadi bait puisi yang menceritakan tentangmu, hanya tentangmu, juga tentang perasaanku padamu.

Kalau Pablo Neruda menulis ‘puisi paling sedih’ untuk mengenang kekasihnya, maka aku akan menulis puisi yang lebih sedih lagi, misalnya tentang hatiku yang terus menjerit melihat tubuhmu seperti ombak biru yang menghempas pantai dan karang dan udara. Juga perahu nelayan yang mencoba menepi, juga perahuku yang terus terombang-ambing kehilangan arah.

Kalau hari memang tidak pernah berpihak padaku, tak apa, sebab ketika akhirnya kapalku karam di sebuah negeri yang belum bernama, aku akan terus mencintaimu seperti angin yang terus membelai wajahmu, udara yang memberimu kehidupan. Aku akan menanami seribu jenis bunga di sebuah taman, juga seribu puisi, tempat mematrikan kenanganku tentangmu.

Maka ijinkan aku bercerita sekali lagi, sebelum kamu pergi dengan pengantinmu, dan merenggut nafas dari paru-paruku.

Penyair Hanya Punya Kata-kata ; Sebuah Pandangan Puisi

- No Comments
Penyair Hanya Punya Katakata

... Penyair hanya punya kata-kata, campakkanlah ia di sudut yang paling sudut, karena ia adalah aku…

Teman, kalimat itu aku baca di lembaran terakhir buku lusuh yang kutemukan di jalan. Entah mengutip dari mana, entah ditujukan untuk siapa, aku tak peduli. Hanya, ketika ada sedikit kesalahpahaman dengan kekasihku, kalimat itu kukutip dalam surat untuknya (mungkin itu romansa tahun usang, kalau sekarang, katanya, sudah tidak jamannya surat-suratan). Kamu tahu hasilnya? Damai pun menyinari bumi. Teman, begitu dahsyatkah kekuatan sebuah puisi?

Yang mengherankan, sampai dengan sekarang kalimat tersebut begitu lekat dalam ingatanku. Melebihi ingatan gejolak kerinduan yang disampaikan kayu kepada api yang menjadikannya abu (dari sajak Sapardi Djoko Damono, judulnya “Aku Ingin”).

Jadi, penyair hanya punya kata-kata? Untuk kemudian dengan rela dicampakkan di sudut yang paling sudut. Mungkin di laci meja berteman dengan tumpukan bon warteg, berdebu, dimakan ngengat, dan kemudian tak terselamatkan karena banjir melanda kota. Mungkin juga sedikit keren nampang di toko buku, tapi merana karena tak terbaca dan jumlahnya hanya sedikit berkurang. Atau mungkin bersemayam di sudut yang begitu dalam di hati kekasih pujaan, menatahkan prasasti kebahagiaan yang begitu personal, untuk kemudian terempas kenyataan karena ada orang lain yang menyodorkan syair kemapanan. Dan mungkin juga terbenam di sudut pikiran kita, tak tertuliskan, tak terkatakan, menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan. Yang paling parah tentu dicampakkan oleh institusi yang merasa kehormatannya dilecehkan: ke dalam penjara keterasingan atau dihilangkan begitu saja.

Jadi, penyair hanya punya kata-kata? Kata-kata yang mungkin hanya dibaca oleh penyair lain, pemerhati sastra, pengamat sastra, atau masyarakat komunitas sastra. Sambil was-was mengharap penilaian bintang lima. Bukankah orang-orang itu sudah terlalu kenyang melahap hal-hal tersebut? Beranikah kita berharap puisi-puisi bisa akrab di telinga masyarakat umum, seperti lagu dangdut yang begitu riuh berdombretan menyambut pagi yang menyingsing, padahal sama-sama berisi kesedihan? Apa penyair harus minta bantuan aransemen kepada Erwin Gutawa atau Dhani Dewa, kemudian dinyanyikan secara mendesah oleh Ayu Ting Ting atau Syahrini? Menjadi semacam jalan "sosialisasi puisi". Tapi, jangan-jangan pengamat sastra dan penyair itu sendiri merasa terjebak dalam lingkaran budaya populer. Nah lo….

Teman, banyak orang mengatakan bahwa penyair adalah seorang yang memiliki kepekaan jiwa, lihai mengungkapkan perasaan, sabar dalam menyelami makna, dan sifat-sifat yang mulia lainnya. Jadi, berbanggalah para penyair. Ya, walaupun banyak pula orang yang mengatakan bahwa penyair (dan seniman lainnya) hanyalah orang dengan tingkah laku, pakaian, dan berpikiran aneh. Maksudnya mungkin "nyeni". Tapi percayalah, Teman, bahwa penyair dilahirkan di dunia ini untuk memberi setitik cahaya terang, seperti nyala lampu lilin di gelap malam sunyi. Setidaknya, itu untuk diri sendiri, kekasih, teman terdekat, dan masyarakat (kalau bisa).

Teman, benarkah penyair hanya punya kata-kata? Mungkin tidak! Wiji Thukul tak hanya punya satu kata: Lawan. Jalan hidupnya sendiri adalah sebuah perlawanan. Mungkin tanpa ia berkata-kata. (Meski keberadaannya pun hilang tanpa kata-kata). Bagaimana bila kata itu aku yang menulis, seorang yang sendirian, yang sekadar menulis tak karuan, tak pernah turun ke jalan, dan selalu terlambat dalam bersikap? Mungkin hanya kata-kata kosong, Kawan.


Sebuah Pandangan Puisi

Teman, aku selalu ragu apakah puisi yang aku tulis bisa singgah di hati pembaca. Karena, terus terang saja, aku sendiri begitu malas membaca, apalagi memahami puisi. Ya, buktinya buku antologi puisi yang aku punya hanya hasil dari hadiah penerbit atas cover buatanku. Nama-nama penyair pun kuingat hanya sebatas nama, itu pun yang umum-umum saja. Jadi, aku tak berhak mengharapkan agar masyarakat umum bisa membukakan diri pada puisi.

Teman, aku hanya punya kata-kata. Itu pun selalu tak karuan. Jadi, kalau kamu bertanya, "Lalu untuk apa menulis puisi?" Mungkin aku akan menjawab, "Entahlah.…"

Restu Dari Surga ; Cerpen Cinta Tak Direstui

- No Comments
Salam. Masih dengan karya Cerpen lama saya. Kali ini cerpen tentang cinta yang tidak direstui. Pernikahan tanpa restu orang tua. Bagaimana kisahnya, mari simak bersama.

Sebuah Cerpen Cinta yang Tak Direstui

 Restu Dari Surga


 "Pergi kau! Aku tidak punya anak durhaka sepertimu!..."

Seorang wanita muda menyentuh pundakku, membuyarkan lamunan. Lantas mengamati refleksi bayangku dalam cermin yang terbalut baju pengantin. Budhe Santi namanya, dia istri Pamanku. Paman sendiri masih berada di ruang depan bersama para Kyai, menjadi wali akad nikahku. Kuusap lembut dahiku dengan tisu, menjaga keringat meleburkan riasan di wajahku.

"Kawulo terimo pendaupanipun lan penikahipun tiyang estri ingkang nami Rahma Binti Suryono . Pendaupanipun lan penikahipun ingkang sampun pasrah dateng panjenengan kelawan mas kawin arto gangsal atus ewu rupiah sampun kulo bayar tunai."

Terdengar kalimat akad telah dilantunkan dengan lancar. Tak terasa bulir bening berloncatan dari sudut mataku. Ya Rabb, jika memang ini jalan yang Engkau ridhoi, lunakkan hati Bapakku ya Allah yang Maha pemberi, desah batinku.

Gejolak batin berkecamuk dalam dada. Pikiran gelisah akan restu Bapak yang belum kudapatkan masih terus mengganggu di detik-detik bahagiaku.

Sebuah Cerpen yang Tak Direstui


***

"Bapak, bukan dia pelakunya. Kenapa Bapak menyamakan dengan Abangnya?" isak tangisku memuncak. Berlutut dan memeluk kaki Bapak.

"Tidak peduli apapun. Bajingan itu berasal dari keluarga biadab itu !" bentak Bapak tanpa memandangku.

"Pak, dengarkan aku..."

"Cukup! Pergi kau dari sini jika tidak mau menuruti kataku!

"Apa kau tega menambah penderitaan kakakmu? Apa kau lihat ada tanggung jawab dari keluarga bajingan itu, hah!

"Apa kau merasakan jeritan sakit kakakmu? Apa kau merasakan ketika kakakmu diperkosa abangnya, hah! Lalu kau mau bergabung dengan keluarga bajingan itu? Lebih baik aku tak punya anak durhaka sepertimu!" umpat Bapak.

"Pak, dia tidak seperti abangnya pak. Dia tidak sama dengannya. Percayalah... " tangisku makin menderu.

"Apa kau mau melihat Bapakmu bakal jadi gila seperti kakakmu karna harus melihat kamu bersama keluarga bajingan itu? Beruntung ibumu sudah mati, hingga tak perlu melihat tingkahmu seperti ini!" Suara Bapak makin meninggi. "Dan masih untung lelaki bangsat itu karena tak ada bukti-bukti untuk mejeratnya ke dalam penjara. Padahal dia juga yang membunuh janin dalam kandungan kakakmu. Apa kamu ingin Bapakmu menyaksikan itu terjadi juga padamu? Apakah Bapakmu harus menyaksikan untuk kedua kalinya, putrinya diperkosa lalu pria itu menolak bertanggung jawab dan membunuh janinnya sehingga membuatnya gila? Apa kau ingin gila seperti kakakmu, hah!" Bapak menatap tajam, melukiskan raut wajah serupa singa yang siap menerkam.

"Tidak pak... Kami akan menikah. Kami ingin sah sebagai suami istri, pak... "

“Sampai mati pun aku tak akan pernah merestuimu! Tak akan kubiarkan kau jadi bagian dari keluarga biadab itu. Seluruh keluarganya sama saja!”

“Pak, kami akan menikah resmi pak. Kami akan menikah. Kami akan mengontrak rumah sendiri pak... “ ratapku tiada henti.

"Baik. Kalau kau memang ingin demikian, kau bukan anakku lagi. Camkan itu!

" Pergi kau! Aku tidak punya anak durhaka sepertimu!" Bapak berlalu. Terdengar bantingan pintu dari arah kamar Bapak.


***

Prosesi pernikahan telah selesai. Tidak ada keramaian yang bergembira seperti yang telah kubayangkannya selama ini. Tidak ada tenda biru, tidak ada janur kuning, tidak ada pelaminan dengan hiasan megah. Tidak ada pesta layaknya pernikahan pada umumnya. Tidak ada.

“Sekarang kalian telah sah menjadi suami istri. Cium tangannya,” ucap Budhe Santi ketika mas Rahmat menghampiriku di ruang tengah.

Aku meraih tangan lelaki tampan di depanku. Mengecup punggung tangannya lalu memeluknya sesaat. Sebentuk cincin polos dimasukkan ke jari manisku. Aku menatapnya. Lelaki yang kini telah sah menjadi suamiku itu tersenyum. Air mataku kembali menetes. Merusak polesan bedak diwajahku. Mengalir lewat lekuk pipi dan menyisakan butiran di ujung bibir.

***

Untuk Bapak,
Bapak, bagaimanapun kerasnya Bapak menentang, memutuskan hubungan kita, hubungan itu tetap ada. Dan aku tetap menganggap Bapak sebagai ayahku. Satu dan selamanya….

Bapak, aku mengenalnya jauh sebelum kejadian itu. Bagaimana mungkin Bapak tega memberatkan kejadian tragis itu sebagai bagian dosa-dosa yang harus ditembusnya meski dia tidak pernah melakukannya. Bukankah Bapak selalu mengajarkan untuk tidak memiliki dendam? Bukankah Bapak juga yang selalu memberitahu bahwa kebencian pada seseorang jangan dikaitkan dengan orang lain yang tidak berdosa?

Bapak, dosakah itu jika aku menikahi pria yang kucintai? Memisahkan dia dengan keadaan yang seharusnya bukanlah beban dia? Maaf Bapak, jika pada kenyataannya Bapak tetap menganggap itu suatu kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku akan menjalaninya. Dengan ataupun tanpa restu dari Bapak, meski Bapak tahu jelas harapan akan restu dari Bapak selalu ada dan tak pernah sirna. Aku sudah bicara dengan Paman Fandi, dia bersedia menjadi wali nikahku.
Bapak ... maaf karena anakmu tidak berbakti.
Dengan cinta yang penuh tangis darah,
Putrimu,
Rahma Raisya.

Sepucuk surat telah sampai pada alamatnya, ketika rumah itu ramai orang-orang. Sepucuk surat itu tepat pada tujuan, tapi terlambat. Seraut wajah tua yang penuh kerutan telah memejamkan matanya. Terbujur kaku, terbungkus kain putih dengan hiasan kapas pada lubang hidungnya. Diam untuk selamanya. Hanya beberapa jam, dipisahkan oleh jarak, dua peristiwa besar telah terjadi. Apakah “maaf” dan “restu” itu masih ada?


Batang, 26 Maret 2011

Tanpa Titik ; Prosa Tentang Kesunyian

- No Comments
Aku tersesat di kota ini, menyusuri lorong-lorong di antara bagunan-bangunan peneduh. Belum lelah kakiku meski sudah berjam-jam sejak matahari bangkit. Aku masih berjalan, tidak ada keinginan berhenti meski kulihat jalan di depan sana seperti tak berujung. Semakin dekat, sesungguhnya ia semakin jauh.

Aku tersesat di antara kata-kata yang memetakan kesunyian. Di antaranya tak ada arah angin yang memberi arah untuk jalan pulang. Aku tak tahu arah jalan pulang

Dan langitpun kembali mendung, mentari mengintip sebentar-sebentar tak berani keluar dari balik awan hitam. Padahal tengah hari biasanya panas menyengat memompa keringat, tapi tidak untuk hari ini. Gerombolan mendung telah menyergap mentari dan mengkerangkengnya dalam hitam. Perlahan namun pasti titik-titik hujan mulai menelanjangi siang membasahi kerinduan tapi melunturkannya. Sekian lama rindu itu mengendap dalam sudut gelap menanti sebias cahaya mendamba desah nafas menyatu. Aku selalu di sana setiap saat, dan bila gelap menyekap aku hanya menyalakan rindu dalam hatiku, karena aku pikir hanya hatikulah yang bisa menerangi diriku saat tak ada kamu.

cerpen kesunyian


Kupejamkan mataku dan membayangkan hadirmu berikan hangat dan kita menyatu dalam desah nafas memburu. Begitu sering kita melakukan itu hingga candunya mengikat hasratku setiap waktu. Berbulan bahkan bertahun sudut itu selalu kita hiasi dengan canda, tawa, desah nafas kita dan kita teguk anggur dalam cawan cinta kita. Sehingga hampir saja aku membuat rumah dalam sudut yang gelap yang dindingnya masih tercium bau keringat kita. Masih terngiang di telingaku saat kautiupkan lembut kata setiamu dan kulihat terselip tulus di lipatan telingamu. Lipatan-lipatan yang sering aku ciumi saat rindu menggangguku.

Rasanya tak ingin hari berganti, tapi waktu mengalahkannya dan detik demi detik menuntunku ke bandara tempat kita melepaskan genggaman saat kepergian. Tetes airmata yang menelaga selalu menyertai awal langkahku darimu. Sering kali kamu membuat telaga-telaga baru di bandara itu yang setiapnya tak pernah mengering. Bahkan menyatu dan mengairi cinta kita. Pematang-pematang tempat kita berjalan masih meninggalkan jejak-jejak dan mengering. Jejak-jejak yang kadang aku menengoknya untuk sekedar mengulang cerita yang lalu. Cerita yang membuatku selalu terkenang akan tawamu, candamu, dan cubitan-cubitan kecil di lenganku. Rasanya enggan aku menutup buku harianku yang saat ini kubaca sambil membayangkan yang pernah terjadi antara kita.

Tapi cerita tentangmu telah berakhir tanpa titik, tanpa koma, hanya tanda tanya berjajar memagar. Aku bisa menerima hujan yang kau turunkan, tapi aku belum mengerti kenapa kau basahi dan lunturkan rinduku? Rindu yang juga pernah menjadi milikmu dan mungkin akan tetap menjadi milik kita. Aku juga masih belum mengerti mengapa kau biarkan dirimu terlena dalam belaian malam dan terlelap, mengapa kaubiarkan petir menyambar menghanguskan asamu? Sementara kau pernah tanamkan pohon asa itu di hatiku. Yang cabang, ranting, dan daunnya merindangi cinta kita, yang buahnya pernah kita makan bersama.

Aku cuma mengerti bahwa saat ini dirimu telah berlalu dari pandanganku. Aku cuma mengerti bahwa saat ini kau telah campakkan sebelah hatiku yang pernah kuserahkan untukmu. Hari-hari bersamamu takkan mungkin kembali, mendung yang kaubawa telah menurunkan isinya dan melunturkan rindu. Apa yang pernah kita lewati adalah keindahan, apa yang pernah kita rasakan adalah kebahagiaan, walau itu telah berakhir.

Di sini, di puncak gunung keputus-asaan aku baringkan diriku agar sang kabut menyelimuti dan membekukan diriku, seperti cintaku.


Puisi Mbeling Karya Wirasatriaji

- No Comments
Salam. Sekedar berbagi pengetahuan mengenai Pengertian Puisi Mbeling sebelum saya menulis Puisi Mbeling.Dalam bahasa jawa, kata 'mbeling' berarti nakal atau suka memberontak terhadap kemapanan dengan cara-cara yang menarik perhatian. Namun berbeda dengan kata urakan, yang dalam bahasa Jawa lebih dekat dengan sikap kurang ajar, kata mbeling mengandung unsur kecerdasan serta tanggung jawab pribadi.

Apa yang hendak didobrak oleh puisi mbeling adalah pandangan estetika yang menyatakan bahwa bahasa puisi harus diatur dan dipilih-pilih sesuai stilistika yang baku. Puisi Mbeling adalah puisi yang membumikan persoalan secara konkret, langsung mengungkapkan gagasan kreatif ke inti makna tanpa pencanggihan bahasa.

Puisi Mbeling

Puisi Mbeling 


Puisi mbeling adalah bentuk puisi yang tidak mengikuti aturan. Aturan puisi yang dimaksud ialah ketentuan-ketentuan yang umum berlaku dalam puisi. Puisi ini muncul pertama kali dalam majalah Aktuil yang menyediakan lembar khusus untuk menampung sajak, dan oleh pengasuhnya yaitu Remy Silado, lembar tersebut diberi nama "Puisi Mbeling".

Kata-kata dalam puisi mbeling tidak perlu dipilih-pilih lagi. Dasar puisi mbeling adalah main-main. Ciri-ciri puisi mbeling Mengutamakan unsur kelakar; pengarang memanfaatkan semua unsur puisi berupa bunyi, rima, irama, pilihan kata dan tipografi untuk mencapai efek kelakar tanpa ada maksud lain yang disembunyikan (tersirat).

Lalu apa bedanya Puisi Mbeling dengan Puisi kontemporer? Jika Puisi Kontemporer, muncul pada masa kini yang bentuk dan gayanya tidak mengikuti kaidah-kaidah puisi pada umumnya, puisi yang lahir di dalam kurun waktu tertentu yang memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan puisi lainnya. Sedangkan Puisi mbeling lebih mengacu pada ke-apaadanya pemilihan kata. Secara awam sebenarnya sulit dibedakan antara Mbeling dan Kontemporer tetapi Puisi Kontemporer bisa berupa puisi yang sulit dibaca dan diartikan, lihat pada Contoh Puisi Kontemporer Wirasatriaji.

Dan inilah Kumpulan Puisi-puisi Mbeling yang coba saya buat. Dengan berbekal keterbatasan kemampuan dan Inajinasi semoga ini termasuk Mbeling.


Kumpulan Puisi Mbeling Karya Wirasatriaji



DATANG DAN PERGI

a
ku
datang
ka
mu
pergi
aku pergi kamu datang kamu pergi aku datang
kita pergi kita datang
mereka diam

KUTANG

Kutangmu tak menjadi kutangku
Karena dadamu merah tak membiru
Celanamu tak menjadi celanaku
Karena milikmu lebat di segala penjuru


 ***

 Kisah Kasih

Jalinan kisah kasih yang mengisahkan sepasang kekasih tentang kasih untuk kekasih yang terkasih hingga jadilah kisah tentang kasih.

Sepasang kekasih yang selalu merindu kekasih terkasih yang terjalin dalam kisah kasih pasangan kekasih dalam balutan kasih menjadikan kisah kasih sepanjang kisah dengan kasih yang terkasih dari kekasih.

Datanglah wahai kekasih, datanglah dalam kasih agar menjadi kisah tentang tangis kasih, tawa kasih, rindu kasih, peluk terkasih, dan kasih yang terkisah dalam kasih kita yang saling mengasihi agar terukir kisah kasih sepasang kekasih yang akan selalu terkisah dalam kasih.

Inilah kisah tentang kasih kita, kekasih.

Tentang sepasang kekasih yang selalu merindu kasih dari kekasih yang terkasih dalam kisah kasih.


 ***

Hidup = Ping ?


ping !

Apakah hidup harus tetap kuhidupi
Jika destination unreacheable

reply from 10.0.18.38: bytes=32 time=1ms TTL=62
reply from 10.0.18.38: bytes=32 time=1ms TTL=62
reply from 10.0.18.38: bytes=32 time=1ms TTL=62
Hidup itu tidak menyenangkan

reply from 10.0.18.38: bytes=32 time=1ms TTL=62
reply from 10.0.18.38: bytes=32 time=1ms TTL=62
reply from 10.0.18.38: bytes=32 time=1ms TTL=62
Lalu untuk apa hidup?

***

Amerta

Aku ingin ada, lebih lama
Lebih lama dari yang engkau kira
Dalam hidupku, hidupmu, atau hidup mereka
Dalam matiku, matimu,  atau mati mereka
Sebab aku punya puisi, di sini
Di batu yang telah kutulisi namaku sendiri
Tak perduli dibaca atau dicibiri
Puisi akan tetap puisi

***

Aku Kamu

Aku melihat kamu dalam mimpi
Kamu bilang "aku cinta"

Aku melihat kamu dalam mimpi
Kamu bilang "aku sayang"

Aku melihat kamu dalam mimpi
Kamu bilang "aku sakit"

Aku melihat kamu dalam mimpi
Kamu bilang "aku perih"

Aku melihat kamu dalam mimpi
Kamu bilang "aku hampa"

Aku melihat kamu dalam mimpi
Kamu bilang "aku tangis"

Aku melihat kamu dalam mimpi
Kamu bilang "aku tawa"

Aku melihat kamu dalam mimpi
Kamu bilang "aku kamu"


Demikian Puisi Mbeling yang saya buat semoga bisa memberi pencerahan bagi yang bingung tentang Puisi Mbeling. Anda juga bisa membaca Fiksimini Tentang Kedamaian. Salam.

Puisi Untuk Ibu di Hari Ibu

- No Comments
Salam. Kali ini saya akan mencoba menulis Puisi Untuk Ibu. Puisi Tentang Ibu sebagai persembahan di Hari Ibu. Puisi tema Ibu ini sebagai bentuk sayang dari saya ke ibu, meski sampai kapanpun saya tidak bisa membalas apa yang pernah ibu berikan pada saya.

Puisi Ibu ini sebenarnya sudah saya tulis sejak lama, tapi belum sempat saya posting di blog ini. Sebelumnya hanya saya posting di catatan fb saja. Puisi ibu ini saya tulis sekitar 3 tahun lalu pada waktu masih produktif menulis. kalau sekarang jujur saya sudah jarang menulis. Mungkin krane fokus pada keluarga baru kali ya :D

Baiklah, berikut puisi tentang ibu yang saya buat untuk ibu tercinta di hari ibu.
Puisi Tentang Ibu

Puisi Tentang Ibu


Segalanya Bagiku

Yang tak lelah mengasihiku
Yang tak luput mendoakanku
Ibu, segalanya bagiku

Pada sekeriputan paras waktu
Kauusir malamku yang tergugu pilu
Dimakinya bulan hingga tertunduk malu
Demi lelapnya aku

Dan sajian pesona kasihmu
Adalah sekumpulan mawar yang selalu mekar di empat musim
Melimpah kasih kurasakan, sejuta cinta kudapatkan
Tundukkan mentari menyengat pada langkah yang terhambat

Lalu, dengan parau suara sendu
Pada antara sepertiga malam sujudmu
Kaugamis rahmat untuk anakmu

Usaplah air matamu, Ibu

Mungkin susu tak lagi bisa kautitipkan Di sela-sela kerongkonganku
Mungkin susu yang kucicipi tak sekental dahulu
Mungkin botol susuku tak lagi sebuah 'botol susu'

Namun, Ibu
Dekapanmu ketika aku takut di temaram sepi
Nyanyianmu yang antarku ke alam mimpi
Semua itu lebih dari sebotol susu.


Selamat Hari Ibu, Ibuku yang paling manis dan akan selalu manis.


Demikian Puisi Tema Ibu, dan............. Selamat Hari Ibu untuk Ibu di Seluruh Dunia :)