Sebuah Negeri Tanpa Nama ; Fiksimini Tentang Kedamaian

Sebuah Negeri Tanpa Nama, demikian aku menyebutnya. Tempat kabut dan hujan berpelukan. Dimana matahari selalu kalah oleh kegarangan dingin. Kau hanya bisa menikmati hangatnya sebentar saja. Tetapi disini, tempat pertemuan dan perpisahan terjadi. Rumah-rumah beratap dan berpintu rendah, supaya dingin tak terlalu menusuk. sewaktu-waktu hujan bisa turun tak kenal musim.

Kita pernah meringkuk dalam tenda diantara rimbun pohon-pohon purba yang lembab. Dari jendela kaca rumah ini, kita bisa melihat hamparan ladang milik manusia-manusia yang lega oleh yang kita sebut kemelaratan. Mereka, orang-orang itu tidak pernah peduli dengan apa yang terjadi di pusat kota. Apakah para pemimpin saling menghajar dan menghujat, apakah hipokrisi dan kapitalisme makin merajalela. Manusia-manusia itu tidak pernah mengeluh, seperti kita yang merasa selalu kurang. Inikah konsep hidup yang sebenarnya? Ketika ada atau tidak ada uang di tangan, kita masih bisa tersenyum dengan ikhlas.

Fiksimini Tentang Kedamaian


Para Bapak dan Ibu-ibu selalu pergi pagi mengusir dingin dengan kaki telanjang ke ladang. Menenteng keranjang yang kelak diisi rumput untuk makan ternak, atau sayuran yang hendak dijual ke pasar. Adakah mereka saling mencintai sebelum menikah? tapi kulihat tatapan cinta di mata mereka. Kecintaan pada anak-anak yang telah mereka lahirkan tanpa mau sedikitpun mengabaikan dan ingin memberikan yang terbaik dengan cara sendiri. Tidakkah kau ingin seperti mereka? Saling mencintai dengan konsep yang agung. Memandang cinta sebagai sesuatu yang seharusnya dijalani, bukan dikonsepkan dengan kebutuhan fisik dan kriteria-kriteria.

Mereka, manusia-manusia itu, selalu menyapa kita dengan keramahan yang sempurna dan ikhlas. Aku rindu manusia-manusia itu.

Tidak ada komentar: