Aku Nggak Tahu ; Sebuah Cerpen tentang Uang

Salam Sakit dan Tetap Sakit.

Kali ini saya mencoba membuat cerpen mengenai kehidupan mahasiswa, tentang kost, tentang uang, dan segala hal yang sebenarnya realita dan tak bisa kita pungkiri. Inilah yang terjadi di sekitar kita. Sebuah cerpen yang saya rangkai dengan bahasa sederhana dan ringan, semoga bisa diambil manfaat dari sekilas cerita pendek ini.

Aku Nggak Tahu
Oleh: alisakit


"Nggak tahu," itu jawabanku ketika ibuku bertanya kepadaku di telepon.

"Kok bisa ndak tahu? Kamu itu niat ngga sich?" tanya ibuku lagi.

"Ya aku nggak tahu, bu. Soal niat ya tentu aja aku ini niat. Kalo nggak, ngapain aku jauh-jauh ke Jakarta," jawabku setengah kesal.

"Kalo kamu niat, kenapa lama banget? Kakak-kakakmu dulu tidak selama kamu."

"Terserah ibu aja deh mau gimana. Pokoknya aku nggak tahu."

"Kok terserah ibu? Kamu itu di sana belajar apa ndak sih? Bapak sama Ibumu ini sudah tidak punya banyak tabungan. Bapakmu sebentar lagi pensiun. Pensiun Ibu juga ndak banyak. Kamu tahu berapa banyak uang untuk kuliahmu itu? Lalu untuk kos-kosanmu, makanmu. Berapa uang yang sudah dikeluarkan Bapakmu untuk beliin kamu sepeda motor dulu? Kamu tahu berapa banyak?"

"Nggak tahu bu..." jawabku asal-asalan.

"Anak ini makin lama makin rusak ya? Mestinya Ibu dulu ngelarang Bapakmu bolehin kamu ke Jakarta. Di Jakarta disekolahin mahal-mahal malah makin kurang ajar dan seenaknya saja kamu ini."

"Loh, kan ibu tahu dulu aku nggak keterima di UGM."

"Ya salahmu to, milih kok yang susah-susah wong kamu itu ndak pinter kayak kakak-kakakmu. Kenapa ndak pilih Unnes aja yang deket."

"Nggak tahu, bu. Udah ah, aku males. Besok-besok aku telpon lagi ya bu. Pareng." ujarku sambil menutup telpon.

Aku melangkah keluar dari wartel dengan wajah kusut. Aku memang bukan ketiga orang kakakku, yang bisa berkuliah di PTN terkemuka, lalu lulus dengan nilai bagus dan langsung dapat pekerjaan sehingga bisa membantu keuangan keluarga dan membantu biaya kuliah anak yang brengsek ini. Terserah, aku bukan anak yang sempurna seperti mereka. Aku ya aku. Mau dibilang apa, aku nggak peduli.

***

Mungkin memang benar kata orang bahwa dunia ini sudah dikuasai oleh uang. Faktor uang jugalah yang membuat orang tuaku menyuruhku untuk cepat-cepat menyelesaikan kuliahku. Aku jadi teringat percakapan dengan teman kost-ku, Danur, di suatu sore yang panas.

Entah kemasukan roh dari mana tiba-tiba ia ngomong "Bud, dunia ini tuh duit doang. Lu ada duit, apa aja bisa lu dapetin deh." Aku hanya manggut-manggut saja mendengarkan celotehnya itu. Bukan hendak membantah pendapatnya, tapi aku merasa tidak perlu mendengarkan “khotbah” itu.

"Lu nggak percaya sama omongan gue? Gue tunjukin buktinya. Hal begini udah dimulai dari masa kita sekolah, bro. Anak orang kaya pasti bisa dikirim ke sekolah yang bagus, dikirim ke luar negeri. Anak orang kismin? Ya seadanya aja. Itu juga kita yang udah belajar mati-matian gini kadang harus ngeliat realita adanya anak yang nggak belajar tapi nilainya bagus karena dia anak orang kaya. Kursi masuk PTN, bisa diperjualbelikan, man. Mungkin lu dulu nggak masuk PTN karena jatah tempat lu udah diserobot sama orang yang bayar man. Inget, duit man... duit!"

"Iya… Iya, udah lu diem, gue lagi baca koran nih."

"Lu sekali-kali dengerin gue dulu napa. Sampe mana gue tadi? Oiya, anak yang ortunya nyogok. Ya gitu bro, dari kecil udah terbiasa tumbuh di lingkungan dimana duit bisa ngatur segalanya. Terus sampe gedenya kebiasaan. Mau masuk kerja di departemen, kasih uang muka dulu."

"Oh... lu ngomong kayak gitu cuma sewot lu bro, karena sampe sekarang masih nganggur?" tanyaku mengejek sambil ketawa. Danur adalah anak yang pandai, entah kenapa sampai sekarang dia masih jadi pengangguran. Untuk menutupi sebagian kebutuhan hidupnya, dia terpaksa menjual kepandaiannya dengan cara membuat skripsi untuk orang lain.

"Gue ngomong realita ini bro. Realita!" ujarnya.

"Yah, habis mau diapain lagi, faktanya emang gitu..." ujarku tetep cuek.

"Nggak usah jauh-jauh deh bro contohnya. Gue kasih contoh yang deket aja. Gue nih, bro. Demi duit, sampe rela bikinin skripsi buat anak-anak orang kaya yang otaknya nggak nyampe. Lu sama si Wijanarko juga tuh. Dunia ini emang nggak kaya yang di sinetron-sinetron apa di cerita-cerita yang isinya orang-orang kaya doang."

Aku hanya tersenyum kecut dibuatnya. Karena apa yang dia katakan semuanya benar. Wijanarko adalah teman kost-ku juga. Anak arsitek yang berambut gondrong, dan rada gimbal ini rela memacari pembantu sebelah rumah hanya supaya bisa makan gratis. Wijanarko pernah bilang "Lumayan, gue jadi bisa ngrasain enaknya nasi goreng Thailand. Udah bosen gue makan nasi goreng bumbu cabe dan kecap kayak bikinan kalian itu."

Sedangkan aku, apa yang telah aku perbuat? Aku mengencani anak pemilik Wartel dan Warnet itu supaya aku bisa telepon interlokal gratis ke Solo. Juga karena aku ini kecanduan internet. Bayangkan saja berapa biaya yang harus aku keluarkan untuk itu semua kalau aku tidak dikasih gratis sama Rini. Walaupun Rini itu tidak begitu cantik, tapi lumayanlah aku bisa memanfaatkannya. Aku sendiri tidak tahu awal dari ide ini. Aku juga tidak membayangkan bagaimana perasaan Rini nanti seandainya dia tahu yang sebenarnya. Entahlah… rupanya banyak sekali hal yang aku tidak tahu, dan tepatnya tidak mau tahu.

cerpen alisakit


***

"Lho Rin, kamu udah lama di sini?" tanyaku ketika baru masuk kamarku. "Kenapa ngga nunggu di luar aja? kan panas di sini." ujarku lagi sambil membuka jendela dan menyalakan kipas angin. Udara siang itu memang panas.

Rini hanya memalingkan wajahnya dariku ketika kupandangi wajahnya.

"Bentar ya, aku ambilin kamu minum dulu."

"Nggak usah," jawabnya lemah.

"Eh, bentar ya bentar." Lalu aku keluar kamar.

Di dapur aku berpapasan dengan Radit, Don Juan cap cicak di kost-kostan ini. "Eh, cewek gue lu apain tuh jadi diem gitu?" tanyaku padanya.

Tiba-tiba Sandi yang sedang makan menyahut "Cewek lu? kapan lu bener-bener...."

"Eh berisik lu! Jangan kenceng-kenceng kalau ngomong," potongku.

Sandi hanya nyengir sambil meneruskan melahap mie rebus. Sementara aku kembali memandang Radit, menunggu jawaban atas pertanyaanku tadi.

"Eh... apa-apaan? Gue mah nggak ngapa-ngapain cewek lu. Sorry bro, gue sih pantang kalau cewek temen gue embat. Bukan gue banget itu."

"San...," kataku menoleh ke arah Sandi.

Sandi tetap mengunyah dengan santai tanpa merasa kalau aku mengharapkan jawaban darinya. "Sandi!" panggilku lagi. Kali ini dengan sedikit keras.

"Apaan sih? Gue kagak ngapa-ngapain juga. Cewek lu sendiri tuh yang dating-dateng udah lesu, dan langsung masuk kamar lu. Kita tawarin minum juga kagak dijawab," ujarnya sambil mulutnya sibuk mengunyah.

"Eh, kalian nggak ngomong apa-apa kan ke dia?” tanyaku kali ini sedikit khawatir.

"Ngomong apaan?" tanya Radit sambil tertawa kecil.

"Gue serius nih, lu berdua tahu kan apa yang gue maksud?" aku menatap mereka berdua dengan sedikit kesal. "Nggak bro, kita ma nggak bakal nusuk temen. Lu santai aja. Rahasia aman.”

"Udah lama dia di sini?" tanyaku lagi.

"Ada kali sejam," Radit menyahut.

"Buset sejam? Tuh anak betah sumpek-sumpekan gitu di kamar gue," ujarku sambil menuju ke kulkas untuk mengambil dua gelas air dingin.

Ketika kubuka pintu kamar, kudapati ia terduduk di atas tempat tidur dengan wajah murung. Segera kuberikan segelas air dingin. Cepat sekali air dalam gelas itu diteguknya. Rupanya hembusan angin dari kipas tak mampu mengusir rasa panas yang ada. "Kamu udah lama nungguin aku?" tanyaku mencairkan suasana.

"Nggak apa-apa," jawabnya lemah.

Sembari duduk di sampingnya, dan melingkarkan tanganku di punggungnya, kutanya lagi, "Kamu kenapa? Sakit?"

Ia menggeleng. "Aku... Aku..." tetapi setelah itu ia kembali terdiam lama.

Dugg. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang sekali. Aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Biasanya kalau sudah begini pasti ada masalah besar. Dan masalah apa lagi yang hanya bisa didiskusikan dengan pacarnya kalo bukan... Hamil!!?!!

Pikiranku semakin kacau. Kubayangkan bagaimana reaksi orangtuaku jika sampai tahu aku menghamili anak orang. Belum lagi kuliah yang belum selesai ini. Mau diberi makan apa nanti dia dan bayinya ini? Untuk menikahinya, jelas tidak mungkin. Jelas sekali orangtuaku tidak akan merestui jika aku memaksa untuk menikah dengannya. Demikian pula orang tuanya. Aku benar-benar khawatir. Maka kuberanikan diri bertanya kepadanya "Kamu...kenapa? ngomong aja sama aku."

"Aku... aku dijodohkan papa dengan anak temannya. Papa sangat mendorong pernikahan ini, apalagi karena dia lulusan luar negeri. Udah kerja lagi," kali ini dia mulai terisak dan menyandarkan kepalanya padaku.

Apa? dia akan dijodohkan? jadi bukan hamil? Syukurlah dia tidak hamil. Tiba-tiba perasaanku serasa plong. Pikiran-pikiran seram yang semula menggelayuti tiba-tiba seperti hilang dibawa angin entah kemana.

"Rin.." kali ini aku berkata dengan sekuat mungkin untuk menyembunyikan kegembiraanku. "Mungkin maksud papa kamu baik. Anggap saja itu yang terbaik buat kamu. Orang itu khan udah kerja, dan papa kamu kenal dia kan? Mungkin dia lebih bisa membahagiakanmu.”

Ia semakin terisak.

"Mmmaksud aku… Bukannya aku nggak sayang kamu, tapi coba kamu pikir kalau sama aku kamu malah bakal susah. Aku belum selesai kuliah, sedangkan kamu saat ini bakal menikah dengan orang yang dijamin bisa menafkahi kamu. Aku ikhlas kalau itu demi kebahagiaan kamu. Kalo kamu bahagia, aku ikut bahagia."

Entah darimana aku bisa ngomong gombal kaya gitu. Aku nggak tahu. Tapi satu hal yang aku tahu, sore itu aku benar-benar merasa bebas. Bayangkan aja, aku tidak perlu repot-repot mencari alasan untuk memutuskannya. Ini berarti aku bisa semakin mulus mendekati anak sastra yang bernama Dewi itu. Soalnya si Dewi punya mobil yang bisa aku manfaatkan buat antar jemput aku kuliah. Jadi, kenaikan BBM kemarin tidak berpengaruh dengan pengeluaranku.

Tanganku masih memeluk Rini yang masih terisak-isak. Sementara itu mataku memandang keluar jendela sambil tersenyum.


Tidak ada komentar: