Untuk Putraku yang Terlahir

Kukatakan padamu, nak, aku sudah merindukanmu bahkan sebelum paru-parumu memompa udara ke dalam darah yang mengalir di pembuluh. Seperti air jernih di sungai-sungai Kalimantan dan Sumatera beratus-ratus tahun lalu, menelusupi kelok-kelok ceruk diantara pohon-pohon yang menjadi tua dan bijaksana melihat cucu mereka tumbuh menyerupainya.

Pada hari kelahiranmu, aku berdiri tenang dengan sebuah kamera video di samping perempuan yang padanya kutaruh perasaan cinta yang begitu dalam. Aku telah merekam tangis pertamamu, juga kurekam ketika aku memperdengarkan suara azan di telingamu untuk pertama kali. Kelak, aku akan terus merekam setiap tangis dan tawamu sampai kamu siap untuk pergi meninggalkanku kelak bersama pengantinmu.

Setiap pagi datang dengan cahaya hangat yang jatuh di pohon dan rumput, aku akan menggendong tubuh telanjangmu, lalu pergi ke halaman belakang rumah kecil yang sudah kusiapkan untuk kita, duduk di sebuah kursi kayu, mendekapmu, membiarkan tubuh kita disiram cahaya yang terus naik. Sebelum horizon menjadi merah, kubasuh tubuhmu dengan air hangat, setelahnya membaluti tubuhmu dengan wewangian dan pakaian dari kain paling halus di muka bumi ini. Ketika malam tiba, kudendangkan dalam gumaman senandung penghiburan. Kalau malam menjadi dingin dan beku, kurangkul tubuh mungilmu yang indah. Tangan dengan jejari yang begitu manis, bibir merah jambu dan matamu yang hitam. Kuusap setiap senti rambutmu dan meletakkan bibirku di telingamu dan mengucapkan ‘meski semua tidak akan baik-baik saja, tetapi kita akan melaluinya’.

Suatu akhir pekan yang cerah dan hangat di masa kamu sedang belajar berdiri, aku akan membawamu dalam pelukanku melihat dunia. Barangkali kita pergi melihat pameran fotografi di sebuah gallery, atau ke pameran tetumbuhan yang akan kita bawa pulang untuk taman rumah kecil kita. Atau barangkali ke toko buku yang sejuk dan hening dimana kamu bisa melihat betapa luasnya dunia dari kata-kata, dan gambar-gambar yang tersimpan rapi dalam bungkus plastik.

Kalau kita kebetulan bertemu dengan kawan, atau orang asing yang kagum dengan ketampanan yang kamu warisi dariku, akan kukatakan dalam kebanggaan yang sempurna ‘ini anak lelakiku’.

Ketika waktunya tiba, akan kulepaskan kau berlarian di lapangan dengan malaikat-malaikat kecil lain. Ada atau tidak aku di pinggir lapangan, percayalah, aku akan selalu memperhatikan setiap gerakmu. Aku akan hapal caramu berlari mengejar bola atau caramu naik sepeda, juga rupamu ketika tidur.

Bila waktunya tiba, ketika kau menjadi besar, malam sebelum kau pergi ke pelaminan dengan kekasih pilihanmu, akan kuceritakan kenapa aku menamaimu 'Karami'