Percakapan Dengan Rembulan ; Sebuah Prosa Tentang Cinta

Sayang, sadarkah betapa menakjubkannya dirimu? Senyummu sesejuk air sungai surgawi pelepas dahaga, matamu seindah kerlip bintang yang menghiasi malam jelaga. Tawamu semerdu nyanyian para Diva utusan khayangan. Gerakmu indah --meski tiada pasti. Maka, berilah aku seteguk air surgawimu, biarkan aku mengagumi kerlip bintangmu, sambil aku rebah di rerumputan, menikmati merdu tawamu. Akan kuceritakan sebuah rahasia kecilku dengan rembulan, ketika suatu waktu aku sempat memandangi dirimu yang terlelap diantara pinus-pinus di pinggir danau yang riak airnya berkilauan bak permata, terbias cahaya purnama yang tersenyum di pojok langit.


prosa cinta

Roman wajahmu selugu bayi baru terlahir. Oh… rasanya ingin membelai rambutmu, menyentuh alismu, mengecup matamu yang terpejam, lalu bibirmu yang menyunggingkan senyum. Tapi aku cuma memandangimu, sebab engkau terlalu menghanyutkan korneaku.

“Aku mencintainya, Bulan".

Akan kuminta langit melatari lukisanmu, dan awan meneduhkanmu dari panas.

“Tapi aku tidak bisa terbang”.

Bersiaplah, sayapmu akan tumbuh, telah kuminta Dewa-dewa meminjamkannya untukmu.

“Terima kasih, Bulan”.

Berbahagialah, sebab cintamu cintanya akan menjadi awan-awan Nebula yang abadi menghiasi semesta

***

Tidak ada komentar: