Tanpa Titik ; Prosa Tentang Kesunyian

Aku tersesat di kota ini, menyusuri lorong-lorong di antara bagunan-bangunan peneduh. Belum lelah kakiku meski sudah berjam-jam sejak matahari bangkit. Aku masih berjalan, tidak ada keinginan berhenti meski kulihat jalan di depan sana seperti tak berujung. Semakin dekat, sesungguhnya ia semakin jauh.

Aku tersesat di antara kata-kata yang memetakan kesunyian. Di antaranya tak ada arah angin yang memberi arah untuk jalan pulang. Aku tak tahu arah jalan pulang

Dan langitpun kembali mendung, mentari mengintip sebentar-sebentar tak berani keluar dari balik awan hitam. Padahal tengah hari biasanya panas menyengat memompa keringat, tapi tidak untuk hari ini. Gerombolan mendung telah menyergap mentari dan mengkerangkengnya dalam hitam. Perlahan namun pasti titik-titik hujan mulai menelanjangi siang membasahi kerinduan tapi melunturkannya. Sekian lama rindu itu mengendap dalam sudut gelap menanti sebias cahaya mendamba desah nafas menyatu. Aku selalu di sana setiap saat, dan bila gelap menyekap aku hanya menyalakan rindu dalam hatiku, karena aku pikir hanya hatikulah yang bisa menerangi diriku saat tak ada kamu.

cerpen kesunyian


Kupejamkan mataku dan membayangkan hadirmu berikan hangat dan kita menyatu dalam desah nafas memburu. Begitu sering kita melakukan itu hingga candunya mengikat hasratku setiap waktu. Berbulan bahkan bertahun sudut itu selalu kita hiasi dengan canda, tawa, desah nafas kita dan kita teguk anggur dalam cawan cinta kita. Sehingga hampir saja aku membuat rumah dalam sudut yang gelap yang dindingnya masih tercium bau keringat kita. Masih terngiang di telingaku saat kautiupkan lembut kata setiamu dan kulihat terselip tulus di lipatan telingamu. Lipatan-lipatan yang sering aku ciumi saat rindu menggangguku.

Rasanya tak ingin hari berganti, tapi waktu mengalahkannya dan detik demi detik menuntunku ke bandara tempat kita melepaskan genggaman saat kepergian. Tetes airmata yang menelaga selalu menyertai awal langkahku darimu. Sering kali kamu membuat telaga-telaga baru di bandara itu yang setiapnya tak pernah mengering. Bahkan menyatu dan mengairi cinta kita. Pematang-pematang tempat kita berjalan masih meninggalkan jejak-jejak dan mengering. Jejak-jejak yang kadang aku menengoknya untuk sekedar mengulang cerita yang lalu. Cerita yang membuatku selalu terkenang akan tawamu, candamu, dan cubitan-cubitan kecil di lenganku. Rasanya enggan aku menutup buku harianku yang saat ini kubaca sambil membayangkan yang pernah terjadi antara kita.

Tapi cerita tentangmu telah berakhir tanpa titik, tanpa koma, hanya tanda tanya berjajar memagar. Aku bisa menerima hujan yang kau turunkan, tapi aku belum mengerti kenapa kau basahi dan lunturkan rinduku? Rindu yang juga pernah menjadi milikmu dan mungkin akan tetap menjadi milik kita. Aku juga masih belum mengerti mengapa kau biarkan dirimu terlena dalam belaian malam dan terlelap, mengapa kaubiarkan petir menyambar menghanguskan asamu? Sementara kau pernah tanamkan pohon asa itu di hatiku. Yang cabang, ranting, dan daunnya merindangi cinta kita, yang buahnya pernah kita makan bersama.

Aku cuma mengerti bahwa saat ini dirimu telah berlalu dari pandanganku. Aku cuma mengerti bahwa saat ini kau telah campakkan sebelah hatiku yang pernah kuserahkan untukmu. Hari-hari bersamamu takkan mungkin kembali, mendung yang kaubawa telah menurunkan isinya dan melunturkan rindu. Apa yang pernah kita lewati adalah keindahan, apa yang pernah kita rasakan adalah kebahagiaan, walau itu telah berakhir.

Di sini, di puncak gunung keputus-asaan aku baringkan diriku agar sang kabut menyelimuti dan membekukan diriku, seperti cintaku.


Tidak ada komentar: