Lelaki Pahlawanku ; Sebuah Cerpen Tentang Gay/Homo

Salam, masih berbagi mengenai cerpen. Berikut ini saya coba berbagi membuat cerpen yang mengangkat tema tentang Cerpen suka sesama jenis atau Homo. Dalam cerita ini mengetengahkan cerita laki-laki yang suka sesama jenis. Cerpen tentang gay ini saya buat tanpa maksud apapun, hanya mencoba membuat cerpen dengan sudut padang orang kedua(kamu, kau).

Cerpen tentang sesama jenis ini mungkin agak vulgar jika dilihat dari kata-katanya. Memang saya bawakan dengan gaya yang frontal dan tanpa banyak kalimat dekoratif. Saya sengaja membuat agar tidak terlalu panjang sehingga hanya berbentuk Fiksimini. Selamat membaca Cerpen tentang suka sesama jenis ini.

Sebuah Cerpen Tentang Gay/Homo


Lelaki Pahlawanku
Oleh : Wirasatriaji

Kamu adalah lelaki dalam topeng buatan sendiri, sebab kamu adalah bocah yang malu pada realitas yang menghantui. Ibumu cuma gadis kampung yang dinikahi lelaki yang sesungguhnya mencintai kakak dari ibumu, tetapi sang kakak sudah punya calon suami. Sementara ayahmu adalah seorang muslim yang taat, meskipun hal itu tidak menjadi jaminan bahwa dia bisa berlaku selembut Rasulullah terhadap keluarganya. Bagimu, ayahmu serupa monster penghisap darah dengan wajah mengerikan dan bau menjijikan.

Kedua kakak laki-lakimu yang membuat Rumah Pohon di kebun belakang rumah, gemar mengurungmu disana berhari-hari ketika ayah dan ibumu sedang pergi. Sementara mereka, sesuka hati pergi dan berkeliaran di jalan-jalan kota kami yang sempit itu, sebab itu hari kemerdekaan bagi mereka. Tak ada ayahmu yang mendengar bunyi derap kakinya saja membuat kalian menahan takut.

Begitulah hari-harimu, terdampar di Rumah Pohon yang diluarnya diletakkan seekor ular besar untuk menjaga supaya kamu merasa takut untuk keluar. Sampai terkadang kakimu kesemutan, tubuh kamu mengeriput dan otakmu mati.

Hingga sampai umur enam belas tahun, kamu belum tahu cara masturbasi. Kemaluanmu tumbuh tidak sempurna. Ia hanya bisa ereksi ketika melihat laki-laki, bukan perempuan. Alangkah anehnya. Tetapi kamu terlambat menyadarinya, sebab kamu terlalu lama dikurung di Rumah Pohon itu. Ibumu sekalipun tak bisa membantu kamu turun dari sana karena terlalu sibuk mengurus rumah, dan dia juga takut sama ular.

Kakak-kakakmu, ketika ayahmu pergi, sering membawa teman-temannya ke rumah. Sampai suatu ketika salah satu dari teman kakakmu itu menjadi pahlawan sekejap bagimu, sebab dia berani membawamu turun dari Rumah Pohon. Diam-diam pada suatu malam yang gelap. Tak ada bulan yang mengintip, tak ada bintang yang memandang.

Waktu itu dia membawa sebuah obor, lalu menyuruh ular itu untuk pergi ke hutan. Hus... tempatmu bukan disini, katanya pada ular itu. Lalu dia menggendongmu menuruni Rumah Pohon. Tubuhnya benar-benar kokoh untuk membopong tubuh kecilmu.

Sepanjang perjalanan menuju markas, begitu dia menyebut tempat yang akan kalian tuju, berkali-kali kamu mengucapkan terimakasih padanya. Saat itu kamu menganggapnya sebagai pahlawan yang menyelamatkanmu dari sekapan. Hanya itu. Tetapi itu tidak berlangsung lama, sebab ketika tiba di markas, yang ternyata sebuah saung di tengah sawah, dia membaringkan tubuhmu disana.

Disana kamu bisa mendengar suara air yang mengalir dari satu sawah ke sawah lain. Jangkrik dan berbagai binatang malam lainnya bersuara. Kamu masih teringat bau tanah basah dan bau apek tikar pandan yang menjadi alas saung pembaringamu.

Lalu dia ikut berbaring di sebelahmu, mendekapmu dan mengatakan dia sangat sayang padamu. Kamu balas memeluknya, sebab kamu merasa hangat dan nyaman. Tapi kamu merasa ada sesuatu mengganjal di selangkangannya yang menempel di perutmu, sesuatu yang keras. Dia menuntun tanganmu menuju benda itu. Tanganmu yang kecil digenggam tangannya yang kokoh. Tanganmu menempel pada selangkangannya yang menggumpal. Kemudian dengan tangannya dia menuntun tanganmu menggosok-gosok, sambil terus mengatakan bahwa dia sayang padamu. Kamu bingung, sebab dia terus menekan-nekan tanganmu pada selangkangannya. Setelah itu dia membuka celananya, memunculkan benda yang waktu itu belum kamu pahami fungsinya. P*nis. P*nis pertama yang kamu lihat selain milikmu. P*nis lelaki tujuh belas tahun yang kamu anggap pahlawan.

Cerpen Tentang Gay/Homo


Aku juga sayang sama kamu, desahmu.


Baca Juga Cerpen Tentang Uang

Lelaki Pahlawanku ; Sebuah Cerpen Tentang Gay/Homo

Tidak ada komentar: