Mencintai tidak Selalu Bahagia

Kayaknya saya harus setuju dengan kalimat "Mencintai nggak selalu berarti bahagia". Sebab setelah semua yang pernah saya rasakan lagi-lagi terjebak dalam kalimat itu. Ada berbagai macam dan bentuk cinta yang ada dan ditawarkan di muka bumi ini. Entah itu cinta bersyarat, cinta tanpa syarat, atau cinta yang bermasyarakat. Lalu apa semua bisa disebut dengan cinta?

Agaknya dalam hidup ini, cinta itu memiliki standarisasi masing-masing. Relatif. Namanya relatif, ya nilainya bakal tergantung dari kacamata si penilai, tergantung yang mengutarakannya meski dia bukan seorang penilai ahli. Tapi, kalo boleh saya berpendapat, ini yang mungkin paling cocok buat semua jawaban cinta. Baik bagi yang pernah patah hati, patah tulang, atau sedang jatuh cinta.

Mencintai tidak Selalu Bahagia


Gini, kenyataan sebenarnya di dunia ini, orang yang mencintai nggak selalu berarti bahagia. Apakah berarti jadi kebalikannya, bahwa orang yang dicintai harus selalu bahagia? Namun lagi-lagi akan bernilai relatif juga. Sebab semisal dicintai dengan cara posesif juga nggak enak. Dicintai dengan banyak aturan juga nggak enak. Malah banyak nggak enaknya.

Otak ini lagi muter-muter mikirin masalah ini, namun nggak dapet ujungnya.

Sorry, hal ini mungkin cuma dialektika yang nggak bakal ada habisnya. Sebab bakal selalu ada tesis, antitesis, dan sinte.

Bisa diterima?