Restu Dari Surga ; Cerpen Cinta Tak Direstui

Salam. Masih dengan karya Cerpen lama saya. Kali ini cerpen tentang cinta yang tidak direstui. Pernikahan tanpa restu orang tua. Bagaimana kisahnya, mari simak bersama.

Sebuah Cerpen Cinta yang Tak Direstui

 Restu Dari Surga


 "Pergi kau! Aku tidak punya anak durhaka sepertimu!..."

Seorang wanita muda menyentuh pundakku, membuyarkan lamunan. Lantas mengamati refleksi bayangku dalam cermin yang terbalut baju pengantin. Budhe Santi namanya, dia istri Pamanku. Paman sendiri masih berada di ruang depan bersama para Kyai, menjadi wali akad nikahku. Kuusap lembut dahiku dengan tisu, menjaga keringat meleburkan riasan di wajahku.

"Kawulo terimo pendaupanipun lan penikahipun tiyang estri ingkang nami Rahma Binti Suryono . Pendaupanipun lan penikahipun ingkang sampun pasrah dateng panjenengan kelawan mas kawin arto gangsal atus ewu rupiah sampun kulo bayar tunai."

Terdengar kalimat akad telah dilantunkan dengan lancar. Tak terasa bulir bening berloncatan dari sudut mataku. Ya Rabb, jika memang ini jalan yang Engkau ridhoi, lunakkan hati Bapakku ya Allah yang Maha pemberi, desah batinku.

Gejolak batin berkecamuk dalam dada. Pikiran gelisah akan restu Bapak yang belum kudapatkan masih terus mengganggu di detik-detik bahagiaku.

Sebuah Cerpen yang Tak Direstui


***

"Bapak, bukan dia pelakunya. Kenapa Bapak menyamakan dengan Abangnya?" isak tangisku memuncak. Berlutut dan memeluk kaki Bapak.

"Tidak peduli apapun. Bajingan itu berasal dari keluarga biadab itu !" bentak Bapak tanpa memandangku.

"Pak, dengarkan aku..."

"Cukup! Pergi kau dari sini jika tidak mau menuruti kataku!

"Apa kau tega menambah penderitaan kakakmu? Apa kau lihat ada tanggung jawab dari keluarga bajingan itu, hah!

"Apa kau merasakan jeritan sakit kakakmu? Apa kau merasakan ketika kakakmu diperkosa abangnya, hah! Lalu kau mau bergabung dengan keluarga bajingan itu? Lebih baik aku tak punya anak durhaka sepertimu!" umpat Bapak.

"Pak, dia tidak seperti abangnya pak. Dia tidak sama dengannya. Percayalah... " tangisku makin menderu.

"Apa kau mau melihat Bapakmu bakal jadi gila seperti kakakmu karna harus melihat kamu bersama keluarga bajingan itu? Beruntung ibumu sudah mati, hingga tak perlu melihat tingkahmu seperti ini!" Suara Bapak makin meninggi. "Dan masih untung lelaki bangsat itu karena tak ada bukti-bukti untuk mejeratnya ke dalam penjara. Padahal dia juga yang membunuh janin dalam kandungan kakakmu. Apa kamu ingin Bapakmu menyaksikan itu terjadi juga padamu? Apakah Bapakmu harus menyaksikan untuk kedua kalinya, putrinya diperkosa lalu pria itu menolak bertanggung jawab dan membunuh janinnya sehingga membuatnya gila? Apa kau ingin gila seperti kakakmu, hah!" Bapak menatap tajam, melukiskan raut wajah serupa singa yang siap menerkam.

"Tidak pak... Kami akan menikah. Kami ingin sah sebagai suami istri, pak... "

“Sampai mati pun aku tak akan pernah merestuimu! Tak akan kubiarkan kau jadi bagian dari keluarga biadab itu. Seluruh keluarganya sama saja!”

“Pak, kami akan menikah resmi pak. Kami akan menikah. Kami akan mengontrak rumah sendiri pak... “ ratapku tiada henti.

"Baik. Kalau kau memang ingin demikian, kau bukan anakku lagi. Camkan itu!

" Pergi kau! Aku tidak punya anak durhaka sepertimu!" Bapak berlalu. Terdengar bantingan pintu dari arah kamar Bapak.


***

Prosesi pernikahan telah selesai. Tidak ada keramaian yang bergembira seperti yang telah kubayangkannya selama ini. Tidak ada tenda biru, tidak ada janur kuning, tidak ada pelaminan dengan hiasan megah. Tidak ada pesta layaknya pernikahan pada umumnya. Tidak ada.

“Sekarang kalian telah sah menjadi suami istri. Cium tangannya,” ucap Budhe Santi ketika mas Rahmat menghampiriku di ruang tengah.

Aku meraih tangan lelaki tampan di depanku. Mengecup punggung tangannya lalu memeluknya sesaat. Sebentuk cincin polos dimasukkan ke jari manisku. Aku menatapnya. Lelaki yang kini telah sah menjadi suamiku itu tersenyum. Air mataku kembali menetes. Merusak polesan bedak diwajahku. Mengalir lewat lekuk pipi dan menyisakan butiran di ujung bibir.

***

Untuk Bapak,
Bapak, bagaimanapun kerasnya Bapak menentang, memutuskan hubungan kita, hubungan itu tetap ada. Dan aku tetap menganggap Bapak sebagai ayahku. Satu dan selamanya….

Bapak, aku mengenalnya jauh sebelum kejadian itu. Bagaimana mungkin Bapak tega memberatkan kejadian tragis itu sebagai bagian dosa-dosa yang harus ditembusnya meski dia tidak pernah melakukannya. Bukankah Bapak selalu mengajarkan untuk tidak memiliki dendam? Bukankah Bapak juga yang selalu memberitahu bahwa kebencian pada seseorang jangan dikaitkan dengan orang lain yang tidak berdosa?

Bapak, dosakah itu jika aku menikahi pria yang kucintai? Memisahkan dia dengan keadaan yang seharusnya bukanlah beban dia? Maaf Bapak, jika pada kenyataannya Bapak tetap menganggap itu suatu kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku akan menjalaninya. Dengan ataupun tanpa restu dari Bapak, meski Bapak tahu jelas harapan akan restu dari Bapak selalu ada dan tak pernah sirna. Aku sudah bicara dengan Paman Fandi, dia bersedia menjadi wali nikahku.
Bapak ... maaf karena anakmu tidak berbakti.
Dengan cinta yang penuh tangis darah,
Putrimu,
Rahma Raisya.

Sepucuk surat telah sampai pada alamatnya, ketika rumah itu ramai orang-orang. Sepucuk surat itu tepat pada tujuan, tapi terlambat. Seraut wajah tua yang penuh kerutan telah memejamkan matanya. Terbujur kaku, terbungkus kain putih dengan hiasan kapas pada lubang hidungnya. Diam untuk selamanya. Hanya beberapa jam, dipisahkan oleh jarak, dua peristiwa besar telah terjadi. Apakah “maaf” dan “restu” itu masih ada?


Batang, 26 Maret 2011

Tidak ada komentar: