Selamat Tahun Baru, Kawan

alisakit.com - Jangan marah padaku karena terlalu sinis. Maka, tanggal 31 Desember, dengan perasaan berkabung, saya terjebak di jalanan yang macet sepulang kerja. Kendaraan yang tumpah ruah menuju pusat kota. Orang-orang bergerombol membunyikan terompet yang bising. Pengendara kendaraan roda dua sibuk membikin kuping pekak dengan menggeber suara motornya. Bus kota juga dengan kurang ajar menurunkan penumpang seenaknya sebelum rute yang seharusnya dilalui.

Kenyataannya, saya dihadapkan pada sebuah ironi. Kita melalui pukul 12 malam dengan tawa meriah, ciuman di pipi, di bibir, sementara jutaan orang lain di sana sedang menangis kehilangan keluarga.

Selamat Tahun Baru


Sepanjang jalan menembus arus manusia menuju tempat kos, saya melihat orang tua menggendong anaknya yang dipaksa melek untuk diajarkan bagaimana menjadi bagian dari kapitalis, mengikuti sebuah ritual yang sama sekali mereka sendiri tidak bisa memaknai selain pesta, pesta dan pesta. Adakah dari mereka menyadari apa makna tahun baru? Atau sekedar bertanya, memangnya kalau tidur di malam tahun baru terus kenapa? Tahun tetap berganti kan?

Sekali lagi, jangan marah padaku karena terlalu sinis. Sebab saya memang sudah cukup lama menyadari bahwa ritual serupa tahun baru hanyalah kerjaan kapitalis yang mencari untung dengan membesar-besarkan sesuatu. Bahkan ibadah Puasa saja sudah jadi semacam ritual yang tidak bermakna. Pesta buka puasa dibuat di kafe dan di pinggir jalan, tetapi melupakan sesuatu yang lebih penting dari puasa, yang tanpanya puasa jadi tidak bermakna; salat.

Kita sudah kehilangan esensi, kawan. Adakah makna tahun baru selain membuat resolusi yang seminggu kemudian kita sudah lupa untuk menjalankannya?

Tidak ada yang benar dan salah dalam persoalan ini, sebab kalau dipaksa takut dituduh melanggar hak asasi manusia. Tidak salah kok kalau kita mau berpesta, toh duit sendiri, badan sendiri juga. Ini hanya persoalan ‘sense’. Soal selera. Soal kepekaan. Semua serba relatif.

Selamat Tahun Baru, Kawan.