Hormatilah Pejalan Kaki

alisakit.com - Betapa menyedihkan nasib pejalan kaki di negara tercinta kita ini. Sepertinya tidak ada kesadaran untuk menghormati kami, para pejalan kaki oleh mereka yang berkendaraan, atau mereka yang dengan dalih mencari nafkah merampok trotoar untuk dibikin kios tempat dagangan digelar, sehingga kami harus jalan di tepi jalan raya dengan waswas, berharap tak disrempet mobil yang lalulalang.

Saya pejalan kaki, meski tidak selalu. Tetapi saya jadi berfikir untuk mereka yang setia menjadi pejalan kaki. Tentu ada banyak pengalaman tak enak yang dialami yang mungkin mengaggap manusia di jalanan tidak jauh beda dengan hewan-hewan di hutan, menggunakan satu hukum; siapa kuat dia menang. Hukum rimba berlaku di jalanan kita. Yang kecil, seperti para pejalan kaki selalu kalah oleh kendaraan. Belum pernah saya menemui kendaraan yang memelankan laju kendaraannya di zebra croos untuk membiarkan kami lewat dengan tenang sebab tak semua kota mempunyai jembatan penyeberangan. Bukan sekali saya sendiri sering mau disrempet kendaraan ketika mau menyeberang. Bukan sekali saya harus mengalah membiarkan kendaraan lewat di zebra cross, baru setelah jalanan kosong saya menyeberang. Padahal sangat jarang jalanan kosong. Kalaupun kosong, tentu laju motor langsung ugal-ugalan, melaju kencang. Saya malah sering bersyukur kalau macet, sebab menyeberang menjadi mudah.

Lebih celaka lagi kalau sedang musim hujan begini. Pengendara kendaraan jarang peduli kalau kita sering kecipratan genangan air yang dibikin oleh laju kendaraan mereka.

Hormatilah Pejalan Kaki


Inilah kisah saya; saya pergi keluar untuk mencari makan malam. Hujan gerimis sisa hujan deras sejak sore. Dari kost, saya harus berjalan kira-kira 50 meter menuju warung makan. Sepanjang jalan tidak ada trotoar. Di sebuah tempat rupanya ada kubangan air yang cukup dalam dan lebar. Saya berjalan pelan dengan payung, melihat ke depan dan ke belakang untuk melihat kendaraan yang mau lewat. Saya berhenti kalau ada yang lewat supaya tidak kena cipratan. Di jalanan, saya selalu mengalah, sebab si makhluk kecil. Tiba di kubangan itu, saya berhenti membiarkan beberapa mobil lewat. Ada mobil jauh di belakang, perkiraan saya bahwa mobil itu akan lewat di kubangan sesudah saya, maka saya memutuskan untuk jalan melewati kubangan. Apa lacur, ternyata saya salah perhitungan. Tepai di tengah kubangan. Mobil dengan pengendara gila itu lewat tanpa sedikitpun simpati pada saya dengan menurunkan laju kendaraannya. Celakalah mobil itu sebab menciprati saya. Sweater saya basah separuh. Celana dan bahkan kaos saya.

Saya memutuskan pulang ke kost untuk berganti pakaian. Dasar memang makhluk lemah. Kembali di kubangan itu, saya kecipratan air dari tiga motor yang pengendaranya saya yakin sakit jiwa semua, sebab saya sudah melambaikan payung yang ada di tangan saya memberi isyarat untuk "slowdown" di kubangan itu. Motor pertama kalap seperti orang gila. Motor kedua menyusul, tidak sekencang motor petama. Motor ketiga yang seharusnya melihat saya berjuang menangkal semua cipratan air dengan payung sama sekali tidak menurunkan lajunya. Untuk ketigakali saya kecipratan. Sial bukan? Tetapi apalah daya saya selain teriak ‘Asu!’.

Akhirnya saya bertekad untuk membawa batu di tangan. Nanti kalau ada mobil atau motor yang kurang ajar, percayalah, batu di tangan saya pasti melayang. Minimal menghancurkan kaca mobil mereka, sebab jalan dibikin bukan hanya untuk pengendara kendaraan saja. Kami para pejalan kaki juga berhak merasa aman di jalan.

Atau kami harus seperti Kancil yang dengan kecerdikannya mampu mengalahkan Harimau si Raja Hutan? Mungkin dengan mencari jalan alternatif. Tetapi dimanakah ada jalan yang tidak dilalui kendaraan? Kalau begitu, kami menjadi Kancil dengan kekerasan saja.

2 komentar:

airyz mengatakan...

bener, sedia batu sebelum jalan.
:-b

alisakit wirasatriaji mengatakan...

:>)