Antara Cerpen, Sampah, dan Kebrengsekan

alisakit.com - Cerita pendek nan panjang. Semakin hari semakin ngeri. Semakin ngeri semakin dicari. Tapi bagiku tetap saja sampah. Cerpen itu sampah. Dan aku terus menulis sampah. Sampah memang begitu, kadang ngeri. Eh, ada anak Amerika bilang sampah Indonesia jelek-jelek. Pasti dia orang goblok dan tidak mengasyikkan. Kamu bukan dia kan? keringatnya bau keju, dan keringatmu bau jengkol. Tapi buatku keringat tetap keringat meski dengan bau apapun. Jadi biarkan dia dengan keringat sampah kejunya.

Dan sampah tetaplah sampah. Jangan salah, jangan benar, dan jangan asem beranggapan. Bukan berarti Cerpen itu busuk layaknya nasi basi.

Terminologinya begini, sampah kulit pisang sama pentingnya dengan buah pisang. Tanpa kulit, pisang bukan apa-apa. Barangkali kadar vitamin kulit pisang malah lebih tinggi. Sampah pernah jadi sesuatu, maka jangan selalu berfikir akan efek samping. Mungkin harus diganti manusia, eh ralat, cara pandangnya. Dimana tadinya tidak penting menjadi penting. Percuma saja berkali-kali ganti Presiden jika 'jabatan' yang tak penting menjadi sangat penting. Krisis nomor sekian yang penting jabatan dapat. Senasib dengan Caleg nomor sepatu.

Tapi barangkali hal demikian yang membuat cerita pendek jadi memanjang, makin memanas. Makin penuh konflik dan intrik. Semuanya ada dikoran yang kubaca tadi pagi. Kriminal, mesum, misteri, selebritis, hingga iklan pembesar alat vital. Aku jadi berfikir, mungkin koran sudah menjadi cerita fiksi. Betapa mengerikan dunia ini. Hidup lebih aneh dari fiksi. Hingga kita harus membaca kumpulan tips hidup bahagia.

Mungkin kamu pikir aku telah gila. Aku tidak gila, cuma butuh teman. Mungkin teman yang tak kulihat, tak kukenal, pun tak kuingat aroma rokok dan keringatnya. Duniaku penuh imajinasi yang perih yang sejak semula tersangkut dalam plasenta.

Generasi kita hanya memboroskan kata-kata. Hedonisme terselubung. Begitu banyak kata-kata tanpa makna tercecer di jalan raya, di stasiun, terminal, bahkan di gedung Pemerintahan. Mereka tak tahu makna yang mereka katakan tapi tanpa henti digemborkan.

Hei, masih adakah kamu disitu? mungkin kamu bosan dengan tulisan-tulisan tak bermakna ini? Baiklah, pada akhirnya biarlah aku bicara tentang kejenuhanku saja daripada kamu terjebak dalam pemikiran konyolku. Aku sendiri merasa kesulitan mengendalikan pikiran. Ada banyak hal yang tak kuinginkan tapi kumiliki, begitupun sebaliknya. Tapi tak urung kupanjatkan bait-bait do'a syukur di antara sujudku. Bahwa aku masih mampu kontradiksi, punya emosi dan birahi. Itu menunjukkan bahwa masih ada manusia --brengsek bersemayam dalam raga ini.

Dan dengan semua ini membuat aku tak ingin mempersoalkan kenyataan hidup. Jauh lebih mudah memainkan mainstream daripada berbelok, manuver, menerobos papan larangan, atau bergeriliya secara Underground. Lalu apa sesungguhnya yang aku kejar? betapa aneh aku dan duniaku. Cuma satu yang belum mampu kuatasi. Sukacita bergaul dengan kegilaan kumpulan orang Extreme Metal berbarengan dengan dukacita meneguk beberapa sloki Oplosan cap rel kereta.

Cerpen Sedih


Duh, aku manusia paling brengsek sepertinya. Tak mampu menulis Cerpen yang ngeri satupun, tak seperti si bibir seksi Ayu Utami. Eh, dia Novelis bukan Cerpenis. Aku tak peduli, yang jelas aku menggilai karya-karya erotis dan gamblangnya.

Kalau tidak gila, mungkin kamu mengira aku sedang bahagia. Bagaimana mungkin aku bisa bahagia sedang aku mengidap melankolia akut. Bagaimana bisa aku bahagia sedang dunia diperkosa tiap detiknya. Hidup memang kadang terasa berantakan. Cinta menjadi absurd. Ibuku pernah mendambakan aku bergabung dengan grup Rebana saja. Mendendangkan syi'ar lewat syair religi dengan dentuman samak kulit sapi. Wuah, satu jam bersama mereka lebih mengerikan dibanding enam jam duduk di kursi kereta kelas ekonomi. Bukan aku menolak sebab tak suka. Aku lebih memilih menjadi penikmat saja ketika mereka pentas. Duduk di depan panggung dengan sebatang rokok kretek yang disediakan panitia. Menikmati suara alunan tinggi bernafas islami dengan bring-prong-prong-bring bunyian rebana.

Aku juga tidak paham dengan ketidakpahaman orang tentang seleraku. Yang jelas aku tidak mencontek selera siapa-siapa. Inilah aku dengan segala kebobrokan sakitku. Sick, sick, and sick. Aku juga hilang percaya pada energi cinta yang kini terjebak dalam rumus kapitalisme. Tak ubahnya ideologi anak Underground yang kini seperti bisnis putau. Sudah mengalami pergeseran paradigma.

Betapa tidak, berkowar-kowar tentang major label busuk untuk kemudian menghamba ketika demonya dilirik. Jika ini pertempuran, kau sudah lama mati di tangan musuh kawan. Atau meneriakkan anti Amerika tapi duduk di pojok Mc. Donald. Aku juga sudah ngos-ngosan untuk menjangkau harga kaos band metal di distro-distro. Tapi sudah kuduga jawabannya, manusia-manusia seperti kita yang terlanjur dibesarkan di tengah dominasi materi, sudah hampir pasti akan terjerat di perangkap yang sama. Darah muda kita yang begitu murni dan meletup-letup, akhirnya teracuni juga oleh polusi peradaban. Segala cita-cita juang tinggal sampah. Dan perlahan membunuh masa lampau, untuk membiakkan masa depan yang ternyata hanya dejavu.

Aku? se-underground apakah diri ini?meski sudah memboikot coca-cola merasuki tubuh, tapi aku masih ikut ngantri saat musim CPNS tiba. Betapa brengseknya diri ini. Brengsek, brengsek, brengsek.

Mati saja kau..!! Geming hatiku. Tapi aku tak setolol itu, kawan. Walau aku terlahir ditengah kemiskinan, bukan alasan untuk aku tidak bahagia.

Dan aku masih bahagia dengan kebrengsekanku. Kebrengsekan yang sakit.

Sayangku, cintaku, kasihku, pujaanku, honey bunny sweety baby, bla..bla..bla.. yang lebih kusukai memanggilmu dengan Nyai, akulah lelaki paling brengsek yang begitu mencintaimu....

Tidak ada komentar: