Aku Benci Stasiun

Harusnya aku bilang begini; "aku benci stasiun."

Stasiun,  kata itu kubaca dari status sosial media seorang kawan. Tapi aku pernah sekali atau dua kali, datang ke stasiun tanpa berbuat apapun selain duduk dan menikmati pemandangan lalulalang orang yang hendak berangkat maupun datang. Tidak sedang menunggu kereta ataupun seseorang. Aku cuma datang dan larut dalam suasana, atmosfer, dan kegaiban aura tempat ini. Bukan jenis perasaan yang kudapatkan saat berada di bandara, dan jauh lebih intens ketimbang di terminal bis. Mengapa stasiun? apakah karena inikah titik pertemuan, titik perpisahan? inikah titik dimana melankoli seorang Ali muncul? Lalu, mengapa stasiun?

Kususun kembali kepingan-kepingan itu. Stasiun Gambir, dimana kamu sempat pergi tanpa pamit. Stasiun Tanah Abang, dimana kamu jatuh sakit, aku tiada. Stasiun Jatinegara, dimana aku tak menjemputmu, karena aku salah stasiun. Stasiun Kota, dimana aku terlambat menyusulmu dan kamu sudah naik bajaj. Stasiun Senen, dimana kamu tiada, tanpa mengecup bibirku. Stasiun Kota (lagi), dimana kamu menemuiku bersama kekasih barumu.



Aku ingin sekali pergi ke kotamu menaiki kereta, sembari mencatat nama-nama stasiun diantara jarak kita. Bahkan stasiun-stasiun kecil.

Jangan terlalu banyak berpikir, kata temanku. Ya, pikirku. Hanya saja, terlalu banyak hal yang tak kusampaikan. Terlalu banyak hal yang tak kudengarkan. Berpikir memang tak mengubah apapun. Bagaimana jika kutuliskan sepucuk surat saja untuknya? Bagaimana jika aku mengirimi e-mail? Bagaimana jika kulayangkan pesan singkat? Ah, tapi akan ada ribuan "bagaimana" lainnya yang tak pernah mampu kujawab.

Dan aku masih tak bisa mengucapkan yang seharusnya. Mungkin ini sebabnya sesuatu mulai muncul dari susunan itu. Setelah sekian lama, sekian stasiun, sekian perjalanan, sekian persilangan, sekian patahan.

Tidak ada komentar: