Perahu Kertas Merah - Sebuah Cerpen Patah Hati

Bagaimana Rasanya Patah Hati? Mari saya jelaskan melalui Cerpen(Cerpen Pendek) bagaimana patah hati. Cerpen ini berkisah tentang seseorang yang ditinggal kawin dengan mantan kekasih. Silakan dibaca:

Cerpen 

Perahu Kertas Merah


oleh : Wirasatriaji

Senja benar-benar pucat saat lampu telah berpendar sebelum gelap benar-benar sempurna memeluk malam. Sepucat hatiku ketika duduk memandangi laut yang rakus melahap matahari. Meneteskan darah jingga pada riak gelombang dan pasir. Aku terpaku pada kenangan yang tercetak di antara bangku kayu di bawah sinar lampu pantai, tempat tangis dan tawa kita pernah beradu.

Kuharap kau masih ingat bangku tua ini, tempat kita kerap menghabiskan waktu. Mengejar senja yang pamit di ujung kabut, sebab aku suka sekali pada hujan dan kabut. Dan kau, sering mengantarku ke sini untuk menemui keduanya bila hati resah. Kita kerap berjalan bersisian di jalan setapak di bawah nyiur pohon kelapa, lalu mengukir inisial nama kita pada salah satu batangnya. A&U, Ali dan Ucix.

Di bangku ini, aku selalu menggenggam tanganmu ketika kabut dan gerimis mulai turun. Pantai ini telah mengenal kita sebagaimana seorang ibu mengenal anaknya. Seribu percakapan pernah kita habiskan di sini. Wajahku pernah begitu dekat denganmu, hingga bibirku mampu menyentuh merah bibirmu. Namun waktu itu kita hanya bertukar nafas. Kenangan kita berjejak pada kerak-kerak awan yang selalu berarak mengikuti arah angin, lalu jatuh membentuk air dan hilang dalam perut bumi. Usai itu, ia membentuk pelangi yang tak mampu kusentuh.

Jemariku mengusap lembaran kertas berwarna merah di tangan kanan, sebagaimana aku pernah mengusap rambutmu dengan tangan ini. Di suatu senja seperti ini, jemari ini yang menggenggam tanganmu, sementara kini aku menggenggam kepedihan. Seperti apa rupa kebahagian, aku telah lupa. Jika memang aku tak mampu mencipta kebahagiaan, maka biarkan aku mencurinya sedikit saja diantara pendar-pendar senja yang terbunuh cakrawala, agar senandung hati tak melulu sendu. Jejak rasa yang tertinggal hanya menyisakan kesedihan. Getir.

Aku seperti perahu kertas kesukaanmu. Terombang-ambing tak tentu, tak berawak di lepas laut. Mana bisa mencapai dermaga, katamu sambil tertawa di sore itu. Kau memang suka sekali memainkan perahu kertas di pantai ini bersamaku. Tidakkah kau rindu itu? Dengan senyum manja kaupaksa perahu itu berlayar dengan gelombang yang kaucipta. Perahu kertas menjauh, menyimpan seribu rahasia saat kita mengukir kebahagiaan di kaki senja.

Ini hari ke tiga puluh lima semenjak kau melarangku untuk menghubungimu. Aku tahu kau tidak akan mengingatnya. Sebagaimana aku mengingat dan menghitungnya setiap hari berganti. Menarik garis lurus, dan menyilangnya bila telah genap lima. Serupa pesakitan di penjara yang menunggu hari kebebasan tiba. Sebagaimana setiap hari aku selalu menemui senja di pantai ini, lalu kubuat perahu kertas kesukaanmu dan kumainkan sendiri. Perahu kertas untukmu yang kubiarkan menjauh terbawa gelombang, entah kemana ia berlabuh. Perahu kertas yang menyimpan berjuta rahasia, sebab aku sering mengadu kepadanya waktu bulan terang sempurna pada malam-malam kesendirian.

Mungkin aku harus berdamai dengan hatiku. Supaya ia sepakat dengan mataku yang tetap saja jalang mencari sosokmu di setiap jengkal udara. Melucuti setiap jengkal udara dan benda. Berharap, dan terus berharap pada bias-bias sisa kasihmu. Membauimu di tiap sudut senja. Menyusuri kenangan, menyusun bagian-bagian yang hilang, meski sesudah itu tak kudapatkan apapun. Hanya sakit yang semakin nyata.

Senja telah sempurna binasa oleh jelaga malam. Dan malam bukan lagi milik kita. Meski langit kita sama, pijakan kita berbeda. Kita telah berjarak. Tak dapat lagi kuciumi hangat nafasmu. Aku juga tak ingin menerka warna baju apa yang kamu kenakan sekarang, meski kutahu kamu penyuka warna biru. Meneduhkan, katamu. Aku tak hendak menunggu malam menjadi pagi. Sebab malam bukan milik kita lagi.  Maka, ijinkan aku menangis sekali saja, untukmu. Ijinkan aku, meski kesempatan tak akan pernah berpihak. Ijinkan aku, walau kau tak pernah tahu dan tak mau tahu. Dan ijinkan aku, sebab mendung hampir menggulung.

Kulipat kertas merah di tangan kananku. Lalu aku membentuknya sedemikian rupa hingga tercipta perahu kertas. Untuk kali ini urung kumainkan. Aku juga tak hendak melepasnya ke laut. Kubakar perahu kertas itu untuk menghangatkan malam panjangku. Api telah kusulut di ujung perahu. Perlahan api merambat melenyapkan barisan tulisan:

menikah :
Nur Suci Samiasih (Ucix)
dengan
Edi Wildan Kurniawan (Ewil)


Sebuah Cerpen Patah Hati
Perlahan namun tak membekas. Api telah merubahnya menjadi abu. Lalu abunya kuserahkan kepada angin untuk menyebarkan keseluruh penjuru. Sebuah perahu kertas berwarna merah yang kubuat dari secarik undangan pernikahanmu.

 Pekalongan, 21 November 2011

Tidak ada komentar: