Kepak Sayap Kehampaan ; Sebuah Cerpen Patah Hati

Salam Sakit dan Tetap Sakit. Lagi-lagi saya mencoba membuat cerpen(Cerita Pendek) tetapi alhasil seperti biasa, menjadi sebuah cerpen Patah Hati. Beginilah nasib manusia yang penuh dengan penolakan.

Kali ini adalah sebuah cerpen dengan tema patah hati tetapi saya mencoba memasukkan unsur makna tentang realita adanya status sosial masih menjadi pilihan dan diagung-agungkan oleh beberapa kalangan masyarakat kita. Setuju atau tidak itulah realitanya. Atau kamu termasuk demikian? Memandang oranglain melalui status atau jabatannya?

Percayalah kawan, yang menentukan nasib setiap manusia adalah diri sendiri. Kualitas diri manusia itulah yang akan menentukan nasibmu. Jadi buat cewek-cewek, jangan cuma nyari cowok yang mapan, tapi lihat juga akhlaqul karimah-nya. :)

Oke, selamat menikmati cerpen saya kali ini

Sebuah Cerpen Patah Hati


Kepak Sayap Kehampaan
Oleh : Wirasatriaji

Aku berjalan di antara genangan sisa hujan. Pohon-pohon yang kaku menyapa ayunan kaki menyusuri trotoar yang tertata rapi, serapi rinduku yang masih kusimpan dalam ceruk hatiku terdalam. Kedua tanganku telah bersembunyi dalam kantong jaket, menghindari dingin yang membelai manja permukaan kulit. Pendar-pendar lampu jalan yang memantuli permukaan genangan memaksa pita rekam ingatan berputar ke masa saat-saat kita berjalan bergandengan tangan sehabis hujan.

Masih kukenang detik-detik bersamamu. Setiap desir yang mengalir dalam darah ketika pandang kita saling beradu, setiap degup jantung ketika menatap teduh matamu, setiap gurat pada raut wajah bulanmu, segalanya masih kuhapal dengan sempurna. Kau dan aku berjalan bersisian ketika tarian angin malam membawa aroma hujan persis seperti saat ini. Waktu itu, kugenggam erat jemari lembut tanganmu yang berselimut angin dingin. Tubuhmu sedikit menggigil, membuatku ingin memberi pelukan hangat pada tubuh indahmu, lalu mengalirkan kehangatan cintaku yang sesungguhnya menanti uluranmu.

Bibirmu menyimpan senyum ruhsana, binar tatapmu seteduh riak telaga. Membiaskan pijar cinta di setiap kerlingannya. Tapi aku tahu, itu bukan untukku. Matamu menggambarkan seseorang, sosok lain selain aku. Seseorang yang katanya mampu membahagiakanmu. Tetapi aku tetap saja tidak peduli, sebab dengan melihat senyummu saja itu lebih dari cukup untuk bahagiaku.

"Kau melihat apa?" lirih lembut suaramu menyelinap diantara aroma tanah basah.

"Ada cinta di matamu," jawabku menyeringai tatapmu.

"Dan kamu sudah tentu tahu jawabannya, bukan?" ucapmu sambil tersenyum manja. Nampak sebaris gigi rapi dengan mata indah menerawang, tergambar sosoknya di indah bola matamu.

"Ya, cinta itu milik seseorang. Bukan milikku," gumamku lemah.

Seketika bias matamu memantik daguku. Kita berhenti, berhadapan sangat dekat. Dapat kucium dengan jelas aroma wajahmu, seolah-olah kita sedang bertukar nafas. Tapi betapa sesungguhnya hati kita jauh berjarak. Angin memburaikan rambutmu berkelok-kelok tanpa bentur, layaknya cintaku yang tak tertuntaskan.

"Aku juga melihat di matamu,” katamu lirih.

“Apa yang kau lihat?” heranku beriak.

“Cinta. Ada cinta di matamu. Cinta yang sepenuhnya untukku," katamu tertawa renyah.

"Lalu apa yang kamu ragukan?"

Lagi-lagi kamu tertawa kecil, menggantungkan tanda tanya besar yang sulit kumengerti. Terkadang aku berpikir kenapa harus kamu orangnya? Sebuah impresi mendalam tertanam tajam ketika menatap matamu. Kita kembali melangkah. Jalanan terhampar lengang, menyisakan butiran kristal di dedaunan. Sesekali mobil melintas menggilas kubangan.

"Bukankah sudah berulangkali kukatakan, aku mencintai orang lain. Dan seminggu lagi kami menikah. Kau datanglah," akumu sambil berjalan.

"Aku ikut bahagia, kau telah memilih laki-laki terbaik di hidupmu," aku tersenyum, mungkin tidak tulus.

"Kau tidak kecewa?" tanyamu menatapku.

Dengan lembut kuraih bahumu hingga kita kembali berhadapan. Dekat, begitu dekatnya sampai nafasmu terdengar memacu.

"Lihat mataku, adakah di dalamnya terpancar kekecewaan?" ucapku perlahan.

Kau menatapku penuh arti. Masih saja kutemukan kedamaian dari teduh matamu yang mencari jawaban atas pertanyaanku.

"Tidak ada kekecewaan. Aku hanya melihat cinta yang sepenuhnya untukku," ucapmu lirih, lalu menunduk.

Jemariku meraih dagumu, mengangkat lembut hingga tatapmu kembali terlukis di mataku. Tubuhmu sedikit gemetar, entah karena dingin atau sentuhan tanganku. Kali ini matamu malu menatapku. Dingin kian tak terasa oleh hangatnya tungku asmara.

"Cium aku... " ucapmu sambil terpejam.

Maka, aku mengecup merah yang ranum itu. Memeluk erat dalam dekap yang tak rela terlepas. Bibir ranum nan mungil menjadi hangat dan basah. Aku mengulumnya tanpa berharap berakhir dengan singkat. Tapi sesaat kau mendorongku, melepas pagutan bibirku.

"Cukup... " nafasmu sedikit terengah, pipimu merona merah.

Aku mematung, merasakan tanya dalam hati tentang cinta yang menanti sambut ulur tanganmu. "Apa ini artinya kau juga mencintaiku?" bisikku lirih.

"Aku mencintai oranglain," jawabmu seusai mengatur nafas. "Dan ciuman ini, tak akan kulupakan selamanya. Anggaplah ini ciuman pertama dan terakhir setelah sekian lama kamu menjadi teman dekatku. Aku pasti akan selalu merindukannya.

"Apa alasanmu menikah dengannya?" tanyaku gusar.

"Aku mencintainya," kau tersenyum menerawang. Seolah memberi perintah untuk membuat jarak di antara kita.

"Tidak, kau mencintai status sosialnya. Kau tak pernah mencintai hatinya. Sekian lama kita bersama tentunya aku tahu mimpi-mimpi dan harapanmu," aku menyeringai.

Kau meraih tanganku, mengajakku kembali berjalan. Dingin genggammu kurasakan, sedingin kepiluan yang telah berkawan sejak aku mencintaimu.

"Besok kau datanglah ke rumahku. Kebetulan calon suamiku juga akan mampir sebelum berangkat dinas. Nanti kukenalkan dengannya," kau mencoba tersenyum manja. Sedikit berjingkrak menyembunyikan kecanggungan.

Aku tak menjawab.

Kita telah sampai di ujung jalan besar. Kedipan lampu lalulintas sudah terlihat. Warna merah menyala sunyi, menandakan semua kendaraan harus berhenti di belakang garis putih. Seperti aku yang juga harus berhenti berharap untuk memilikimu.  Lampu-lampu kota bermain manja diantara kelembaban siraman hujan yang tersisa. Aku melambai ke tengah jalan raya, menghentikan sebuah taksi.

"Terima kasih untuk semua waktu yang telah kau berikan," kau meraih tanganku, melemparkan senyum termanis yang kurasakan.

"Ma'af, besok dan minggu depan kemungkinan aku tak bisa datang. Terbentur jadwal pameran untuk karyaku," ucapku beralasan. Ada sesak menyeruak kusembunyikan rapat-rapat. Dengan penuh senyum  aku menghadiahkan ucapan selamat, "Selamat menikah."

"Aku yakin suatu saat kau akan menjadi pelukis hebat," katamu riang.

"Aku ingin berhenti jadi pelukis. Pelukis tidak punya status sosial. Pameran itu rencananya semua karyaku bakal kulelang."

"Lalu, apa rencanamu?" kau nampak kaget.

"Entahlah. Mungkin mencari status sosial," sinisku pelan. Menjaga agar suaraku tak terdengar bergetar.

Seketika keheningan kembali terbungkam. Terperangkap diantara kita. Hening, tanpa isyarat apapun yang tak mampu terbaca.

“Kau akan terlihat dungu jika masih mengharapku,” katamu menamaiku.

“Anggap saja aku dungu karena terus mencintaimu. Tapi bukankah kecerdasan juga tidak selalu relevan jika berurusan dengan cinta? Bagiku cinta memanglah sebuah perasaan yang abstrak dan tampak dungu,”  kataku menunduk.

Kamu menatapku lekat-lekat, seolah memaksa tatapku kembali menerobos dalam korneamu.

"Kemungkinan ini yang terakhir kali pertemuan kita. Aku janji, kelak anak lelakiku kuberi nama seperti namamu, Dewa," ucapmu tersenyum.

Seketika bibirmu mendarat lembut di pipiku, sekejap. Hanya sekejap saja, sebelum berlalu memasuki taksi. Suara pintu taksi mengawalimu bergerak jauh meninggalkanku. Lambaian tanganmu perlahan hilang diantara sorot kendaraan dan sendu angin malam.

Dan memang benar, itu terakhir kali kita bertemu. Empat tahun lalu.

Tapi sejak saat itu, kau selalu datang bersama hujan. Mengendap-endap di sela sekat kepalaku yang sarat beban hidup. Hujan yang turun tipis-tipis seolah mengiris sebentuk hati. Aroma tanah basah selalu mengingatkanmu. Embun yang tercetak di pepucuk daun mengundang tangis dalam hati. Ya, hati yang menangis, sebab airmata telah kering sejak empat tahun lalu.

Detik ini,  kembali kususuri jalan ini selepas hujan reda. Jalan lurus yang pernah menyaksikan cintaku terkapar tak berdaya. Siluet tubuh rampingmu tergambar dalam pantulan genangan air di bawah lampu. Membelah ujung-ujung rambutku penuh rindu. Meranggaskan benakku seperti hutan jati di musim kemarau. Serat malam merajut selimut rindu menggebu.

Baru dua hari aku kembali lagi ke kota ini. Dan aku tak pernah tahu dimana dirimu sekarang. Aku tak tahu apakah benar anak lelakimu menyandang namaku. Bahkan akupun tak pernah tahu kau telah memiliki anak atau belum. Yang aku tahu, empat tahun lamanya aku berjuang untuk menjadi seperti lelakimu. Yang aku tahu, empat tahun lamanya aku berjuang menjadi apa yang menurutmu mampu membahagiakanmu. Mengorbankan mimpiku yang sesungguhnya. Berjuang sekuat tenaga hanya untuk sebanding dengannya.

Dan lagi-lagi memang benar, aku berhasil menjadi seperti lelakimu, bahkan lebih. Sekarang aku berpangkat lebih tinggi dari lelakimu. Bintang di pundakku lebih banyak dari suamimu. Sebuah status sosial yang kukejar empat tahun lamanya, yang menurutmu bakal bisa membahagiakanmu.

Sebuah Cerpen Patah Hati

Dulu aku mengira hal ini bakal membuatku puas, nyatanya banyak hal yang tak bisa terpuaskan dengan menuruti gejolak emosional. Hanya kehampaan dalam kepengapan ruang hati. Bahwasanya aku lupa jika aku telah kalah, sebab aku tak pernah mampu memilikimu.

Aku terus melangkah, memunguti sisa kenangan yang tercecer sepanjang jalan. Membauimu di tiap tarian sepi dan angin malam. Meski malammu bukan milikku, aku terus mencintaimu. Pasrah dalam dekapan sayap-sayap rapuh yang membawaku kemanapun pergi. Menyongsong sengat matahari atau mencumbui sejuknya rembulan.  Entah sampai kapan.


Wirasatriaji


                    

Tidak ada komentar: